(3) estetika tanha

 

Estetika Sastra Pascamitos:

MENAMBANG TENAGA GAIB CERITA PANJI

OLEH: S. JAI*)


“MULA-MULA adalah kata. Jagad tersusun dari kata,” demikian tutur penyair Subagio Sastrowardoyo.

Kalimat itu boleh diungkap oleh yang memilih jalan hidup sebagai penyair. Kendati siapa pun sah saja bila percaya dan menyakini nenek moyang segala ilmu—juga tentu saja kata—adalah mitos.  Hal ini berpijak pada pendapat bahwa jauh sebelum kata-kata diperas, diperah sampai apuh beban artinya, mitos telah lebih dulu menyingkap makna sampai akarnya yang purba.

Konon bagi pengarang, ia menyakini amanahnya terletak pada kemuliaannya untuk mengingatkan bahwa menghidupkan kata pada karya itu semulia kreasi Tuhan meniupkan ruh hidup manusia di semesta ini. Barangkali ini klasik kendati tak harus klise.  Meski boleh jadi berbau mistik—sekaligus beraroma ilmiah—ketika lantas menjangkau di luar diri seperti layaknya gerak partikel atau gelombang abstrak selaput jagad. Dengan lain kata, bisa jadi kata itu seperti manusia juga. Seperti juga manusia, ia tahu bagaimana harus hidup, “bercinta” dan menyusun pikiran besar melunasi hasratnya pada alam cita. Tentu saja laiknya pengalaman batin, hasrat yang demikian sangatlah subjektif.  Bagai sajak dalam aku lirik.

Dengan meneropong sedekat mungkin manusia melalui sudut pandang “aku” dan bahasa mereka sendiri adalah sebuah pilihan: sekadar menghormati sebagaimana angkat topi pada kejujuran dan kemurnian kata.  Selebihnya, tentang cinta, menyakini cinta yang berpuasa, cinta yang menahan diri agar terhindar dari kesepian, kecemasan apalagi kehilangan hak milik sebagai individu yang kreatif adalah suatu keyakinan.  Bahwa cinta sulit diterjemahkan, disingkapkan dengan kata-kata karena kata tak sanggup menampung kandungan isinya.  Tapi juga cinta tak bisa menemukan titik paling subtil dalam kata.

Tak lain hanya darah kreativitaslah, kini yang sanggup menangkap bayang keindahan cinta itu dari salah satu dari banyak versi mitos Cerita Panji—sebentuk foklor, cerita rakyat yang dihargai murah karena dinilai tidak bermutu dan rendah. Hanya kekuatan gaiblah, yang kemudian sanggup menuliskannya dalam sebentuk kisah atau hikayat menjadi karya yang tidak perlu diragukan lagi mutunya. Tentu saja tanpa harus meninggalkan watak aslinya, nuansa tradisi tutur di dalamnya juga tetap sebagaimana disebut Paul Recour sebagai “berhala dalam bentuk primitif.”

Sama halnya mitos, menggali spirit, menafsirkan kembali adalah juga kegiatan bercerita, mendongeng ulang yang bersumber pada simbol utama. Maka menjadi sahih bertutur kisah selama mengampu pada sumber keyakinan yang murni, suci, asali, dan tak terbantahkan. Mulanya berhumbalang pertanyaan yang ia percaya, namun juga diyakini mustahil dan sulit bagi pengarang untuk mendapat jawabannya—kendati amat penting untuk terus diburu.  Yaitu, tentang ujung terjauh penderitaan, nasib, takdir, kemiskinan, trauma jiwa.

Muasalnya dipicu kegelisahan pada kisah Sidharta yang kejam meninggalkan istri dan anaknya, juga kekayaannya dan kemudian memilih pergi ke hutan.  Bagaimana bila derita (dukkha) sang istri itu terjadi pada seorang lelaki-suami?  Alangkah dahsyatnya andai seorang perempuan, istri, ibu yang kemudian terpilih atas namanya sebagai ‘nabi’ dan menebar harum bagi jiwa-jiwa manusia di semesta ini?  Lalu, kenapa pula perempuan digambarkan tukang tenung yang keji dalam dongeng Calon Arang di hadapan kekuasan Airlangga?  Pun, mengapa tokoh putri yang kampungan dengan kecantikan luar biasa seperti Dewi Anggraeni harus berakhir dibunuh?  Bunuh diri ataukah memang harus segera diakhiri hidupnya di alam ini menuju alam yang maha luas lainnya?

Singkatnya, manakah yang benar diantara mitos-mitos yang menguasai seluruh ruh dan tubuh?

Tak satupun tersedia jawaban, namun pertanyaan musti diteruskan, demi sebentuk “kehidupan” yang lain. Karena itu, sastra mengizinkan pengarang untuk membayangkan, mengisahkan penderitaan, kemiskinan, takdir itu betapa amat mencerahkan—kendati bukan berarti titik akhir dari suatu koma gebalau tanya—yang dalam bayang imaji kini terjadi pada keluarga Mak Kaji Idayu Kiyati. Tentu saja, sonder niatan menggempur hancur mitos, demi menjaga fungsinya yang diyakini Muhammed Arkoun; mendirikan, mengukuhkan, bagi kesadaran kolektif kelompok yang mengukir suatu proyek tindakan bersejarah yang baru dalam suatu kisah pendirian.

Kurang lebih garis besar, kisah keluarga Mak Kaji Idayu Kiyati seperti ini:

Setelah jatuh miskin, jalan hidup Mak Kaji Idayu Kiyati berubah. Bahkan berputar arah.  Janda tua yang pernah menikah empat kali dan telanjur memenggal masa lalunya itu sadar telah ngugemi spirit hidup yang sempit. Sejarah hidupnya yang getir telah ia gunting usai pengembaraan dalam kesendiriannya.  Seorang putri satu-satunya, Lastri Srigati, tak tahu asal-usul darahnya, bapaknya. Tapi ia mewarisi kemiskinan yang telah membelit, berakar bahkan hingga anak turunnya.  Ia dinikahkan paksa oleh Mak Kaji dengan Matjain, pria pemuja leluhur-leluhurnya karena masih keturunan Sunan Bonang dan mengaku punya hubungan khusus dengan trah rasja Majapahit, Brawijaya VI.  Belakangan Matjain jatuh cinta pada klenik.

Bersama dengan ketiga keturunannya, Ujub Kajat yang cacat, Maya Durghata Karini yang pemberontak, dan Dalla Ringgit yang tak bergairah, keluarga itu menempuh sebuah dinasti yang kosong karena tak mampu membangkitkan spirit hidup manusia di tengah zaman. Namun mereka harus menempuh jalan sejarah sendiri, menggempur mitos-mitos yang bersulur padanya, dan menanam mitos-mitos barunya. Bahkan harapan-harapannya di suatu masa depan, dicoba bangun kembali, berkat mengampu pada spirit Cerita Panji yang sanggup membebaskan diri dari belenggu ruang waktu.

Bagi Maya Durghata Karini, ahli Ilmu Jiwa dengan predikat suma cumlaude bukan suatu yang sulit. Asal punya kesanggupan dan nyali untuk mengambil satu jalan menuju alam cita di luar ruang dan waktu. Akan tetapi bagi yang lain, terkesan naif, kerdil dan tak manusiawi.  Semacam frustasi menjalani hidup. Lastri Srigati mati karena ngenes. Matjain menjadi hilang akal alias gila dan pergi berkelana tanpa tujuan.  Sementara Ujub Kajat mengebiri diri lantaran terlalu banyak membaca ajaran sufi tapi setengah-setengah, sementara birahi tak berkesudahan. Selebihnya, Mak Kaji Idayu yang tak juga mati, akhirnya mengulang pengembaraannya dan ia menemukan tempat barunya yang jahanam. Di situ Mak Kaji Idayu membangun Kerajaan Edan dan menyebarkan ayat-ayat atas nama dirinya sendiri.

Inilah referensi anarkhisme dari tokoh-tokoh novel Tanha. Sesat tapi hidup. Bebas tapi sulit dimaknai, meski bukan berarti kehilangan. Seorang individualis yang menawar pemberian Tuhan. Karena hanya dengan demikian ia bisa bercengkerama dengan dirinya juga dengan penguasa mitos dirinya.

Menguasai dan dikuasai tentu problem yang rumit untuk disoal, digali atau dibongkar untuk dibangun kembali. Sebagaimana kata-kata Carl Gustav Jung, bahwa sejak dulu hingga kini manusia terdiri dari tipe-tipe tertentu dan tipe-tipe itu terbentuk disebabkan pengalaman bersama di masa lampau. Tipe-tipe itu muncul dari sumbernya yang disebut collective unconsciousness, atau ketaksadaran bersama. Ia hadir dalam sastra dalam bentuk archetypal images, termasuk di dalamnya image-image simbolik, mitos dan motif-motif tertentu dalam cerita.  Dalam bahasa Foucault yang lebih canggih,  menyadari pentingnya menyoal  episteme (cara manusia menangkap, yaitu memandang dan memahami kenyataan)  dan wacana (cara manusia membicarakan kenyataan). Secara tegas, menurut Foucault, bukan manusia yang menentukan episteme dan wacana tapi sebaliknya.

Manusia bukanlah sesuatu yang istimewa. Jargon make your life spectacular always, tampaknya sudah kadaluwarsa.

 

Cerita Panji, Mitos, Sejarah

 

CERITA PANJI itu sejenis foklor atau cerita rakyat yang berkembang penyebarannya sampai ke pulau-pulau nusantara.  Tumbuh subur utamanya di Jawa dan Bali, beberapa di pelosok-pelosok kepulauan Nusa Tenggara Barat.  Sebagai cerita rakyat tentu ada muaranya, muasalnya.  Diduga kuat oleh Prof Purbatjaraka, penulisan kisah Cerita Panji baru terjadi pada zaman kejayaan Kerajaan Majapahit karena cerita dengan latar sosial politik Kerajaan Jenggala dan Kediri itu dibuat setelah ingatan orang akan kerajaan itu sudah agak samar.  Sementara mengenai penyebarannya, Prof  CC Berg memperkirakan terjadi pada masa zaman Singasari melalui ekspedisi Pamalayu ke nusantara oleh Kertanegaratahun 1297.

Mula-mula kisah Panji ditulis para pujangga dalam bentuk tembang mocopat dalam bahasa Jawa Kuna. Namun dalam perkembangannya kisah percintaan dan perjodohan putera mahkota Kerajaan Jenggala dan putri Kerajaan Kediri banyak ditulis dalam bahasa dan huruf Jawa.  Ada Panji Sekar, Panji Raras, Panji Dhadhap, Serat Panji.  Lebih dari itu ternyata kisah Cerita Panji sangat berpengaruh dalam kepenulisan sastra sesudahnya. Pujangga Raden Ngabehi Ronggowarsito menulis Kitab Panji Jayeng Tilam dalam bahasa Jawa. Sumosentiko menulis Babat Kediri.

Kitab Babat Kediri mengisahkan, setelah Anggreini, istrinya Panji yang pertama meninggal, Panji Yudarawisrengga menolak untuk dikawinkan dengan saudara sepupunya, putri Prabu Lembu Merdhadu di Kediri. Kemudian Panji meninggalkan Jenggala dan pergi ke Ngurawan, tempat Prabu Lembu Pangarang, pamannya bertahta.  Di sini Panji kawin dengan putri pamannya, Dewi Surengrana.  Ketika pecah perang antara Kediri dan Hindustan, karena lamaran raja Hindustan, Kelana Suwandana kepada Dewi Candra Kirana ditolak. Akhir cerita, Prabu Kelana tewas dan Panji kawin dengan Candra Kirana.  Tapi Surenrana tidak suka dimadu.  Ia pencemburu dan giginya selalu dikerot-kerotkan karena menahan dendam dan benci pada Candra Kirana.  Ia dijuluki Dewi Thothok Kerot.

Demikian banyak ragam Cerita Panji, sehingga membuat puyeng sejarawan-sejarawan yang telanjur percaya pada masyarakat Jawa bahwa Cerita Panji  terkait dengan peristiwa sejarah, sebagaimana pada cerita Babat dianggap tradisi penulisan sejarah tradisional.  Salah satunya, Prof Dr Purbatjaraka yang mengatakan bahwa raja Kameswara I atau Inu Kertapati (1115-1130) dari Kediri sebagai tokoh populer dalam Cerita Panji sedang permaisurinya Sri Kirana, diidentifikasi sebagai Dewi Candra Kirana.

Pendapat bahwa Cerita Panji bukan nukilan sejarah, tetapi mitos yang bersumber foklor Jawa tradisional dikemukakan sarjana Belanda Dr WH Rassers.  Menurutnya Panji adalah sebuah mitos bulan, yang dalam perjalanannya memulai separuh menuju purnama.  Lalu menyusut, kembali separuh dan sempurna lagi.  Semua itu dilambangkan dengan perjalanan hidup Panji yang mendekati Candra Kirana untuk selanjutnya mendapatkan musuh yang merebut Candra Kirana dan Panji pun merana.  Sesudah musuh ditaklukkan, Panji kembali menemukan kebahagiaannya berkumpul Candra Kirana.  Mitos lainnya, terkait mitos air kali Brantas terungkap dalam Andhe-Andhe Lumut  yang tak lain juga sang Panji, dikejar-kejar tiga wanita dari seberang sungai.  Andhe-Andhe Lumut mau menjadikan salah satu diantara mereka sebagai kekasihnya, asal yang masih suci belum ternoda oleh Yuyu Kangkang.  Dugaan Rassers mitos ini terkait kejayaan Prabu Airlangga yang memajukan perdagangan dan pertanian dengan pembuatan bendungan di kali Brantas.

Begitu kuat pengaruh sastranya, Cerita Panji tumbuh subur sebagai cerita rakyat tulisan maupun lisan.  Tak terbatas sebagai karya sastra. Sejumlah kesenian juga mengadobsi cerita-cerita Panji, diantaranya wayang, kentrung, yang paling sering dijumpai di masyarakat.  Wayang beber Pacitan menggunakan nama samaran Panji, Joko Kembang Kuning yang mengejar sayembara untuk mendapatkan Dewi Sekartaji.  Di Yogyakarta, ada wayang beber dengan nama samaran Panji, Kyai Remeng Mangunwijaya yang harus berjalan dititian penjalin untuk mendapatkan Candra Kirana.  Kentrung yang nyaris punah di Kediri, Nganjuk, Blora, Banyuwangi banyak mementaskan cerita-cerita Panji dalam pelbagai versi.  Demikianlah Cerita Panji hidup di tengah masyarakat dan telah  menjadi mitos yang bersumber foklor tradisional.

Boleh jadi, mitos Cerita Panji menjadi sangat populer karena kisahnya lebih gampang dicerna masyarakat dibanding kitab-kitab kebudayaan adiluhung karya pujangga-pujangga kraton.  Kisah Cerita Panji lebih merakyat, jikapun tak perlu mengatakan buruk dalam seni sastra yang kurang bermutu pada zamannya tradisi Hindu masih kuat.  Kedua-duanya, menurutku memiliki kesamaan memperkuat legitimasi kekuasaan kraton. Yang terakhir ini ada kecenderungan kuat dengan mempertimbangkan psikologi masa yang ampuh menyihir rakyat kecil untuk menjadi bagiannya, memilikinya, bahkan untuk menjadi tokoh di dalamnya.

Begitulah kiranya tokoh Dewi Anggreini misalnya menjadi tokoh penting dalam mitologi itu sebagai pembuka ke arah pemahaman yang lebih utuh. Sayang hingga kini tetap misteri. Mungkin ia cuma perempuan biasa, meski bukan mustahil ia “Bukan Perempuan Biasa.” Sebagian besar informasi di atas memang dikutip dari S Hariyanto dalam buku Pratiwimba Adiluhung, salah satu buku babon tentang sejarah wayang.  Kemudian crosscheq ke sejumlah sumber diantaranya Zoetmulder, Kalangwan, Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang, Manunggaling Kawula Gusti. Suripan Sadi Hutomo dalam Mitos Dewi Sri dalam Cerita Kentrung, Parakitri T Simbolon dalam Menjadi Indonesia. Lalu dari Ajib Rosidi, pengarang berdarah Sunda yang sebagai ilmuwan sudah barang tentu mendapat informasi banyak dalam Sastra dan Budaya, terlebih dalam gubahan kisah Candra Kirana yang disadur dari dari salah sebuah Cerita Panji. Dari karya-karyanya mulai didapat pemahaman yang utuh tentang Cerita Panji. Sebagai ilmuwan tentu sebelum menulis ia menelusuri secara mendalam perihal cerita rakyat ini, Cerita Panji gubahannya itu berlatar kekuasaan Prabu Jayawarsyatunggadewa di Kerajaan Kediri dan Prabu Jayantakatunggadewa di Jenggala.

Menurut catatan, Prabu Jayawarsya berkuasa pada 1042-1104.  Dari gubahan Ajib Rosidi itu sangat mungkin Panji Kuda Waneng Pati identik dengan Prabu Kameswara I atau Inu Kertapati, yang berkuasa 1115-1130 dan Dewi Sekartaji adalah Ratu Kirana, permaisurinya.  Sumber foklornya juga tak jauh dari masa-masa itu.  Amat menarik adalah analisis Zoetmulder dalam Manunggaling Kawula Gusti, bahwa  dalam diri Panji kita berjumpa dengan gambaran mengenai Tuhan yang menampilkan diri di dalam dunia. Ia seolah-olah meninggalkan kedudukannya yang asli selaku Dzat Mutlak lalu mengembara jauh diluar negeri-Nya, terlindung oleh samarannya sehingga hanya mereka yang terpilih dapat mengenal-Nya. Jenggalane nut tan adoh, Jenggala tan katilar (Megatruh Serat Centini).  Dari teks Asmaradana,  wayang topeng dengan kisah pernikahan Panji dan Kirana, Zoetmulder mengulas ada pesan bahwa manusia bisa tersesat oleh apa yang mereka anggap kenyataan.  Hyang sukmalah yang menyembunyikan diri dalam badan manusia, sehingga manusia tidak melihat Dia dan hanya terserap oleh badan yang hanya berfungsi sebagai topeng.

Sangat mudah dipercaya dengan muasal Cerita Panji itu subur tatkala Prabu Kameswara I, karena sesudahnya Prabu Jayabaya yang berkuasa 1135-1157 melakukan hal serupa dengan menutup pertikaian dua kerajaan Jenggala dan Kediri sebagai kenang-kenangan belaka.  Mpu Sedah dan Penuluh diperintahkannya menulis kitab Bharatyudha.  Sebuah kitab yang mengakhiri cerita buram Jenggala dan Kediri. Tentu saja, sebagai alat legitimasi baru, kitab itu bertujuan membunuh mitos-mitos sebelumnya terkait raja-raja Jenggala maupun Kediri.  Sayang, kitab itu terlampau agung dan berbahasa Jawa dengan kadar sastra yang tinggi. Cerita Panji kiranya luput dari pembunuhannya, bahkan mengilhami banyak kitab-kitab besar sesudahnya. Dengan kata lain, menjadi klasik.

Jelas itu semua berkat spiritnya yang “agung,” mengandung misteri bersifat mistis yang mengilhami setiap penafsir kritis untuk menyingkap pelindung samarannya (topeng, wadag) untuk agar mengenal-Nya. Dengan kata lain, menjadi klasik, menjadi tambang emas sastra pascamitos, untuk didekonstruksi atau ditafsir ulang. Kelak sangat mungkin menjadi tambang sastra dalam sebentuk kisah atau hikayat yang tidak perlu diragukan lagi mutunya. Tentu saja tanpa harus meninggalkan watak aslinya, nuansa tradisi tutur di dalamnya. Sastra yang kaya falsafi atas nama cinta pada yang Maha Tinggi—cinta yang berpuasa, cinta yang menahan diri agar terhindar dari kesepian, kecemasan apalagi kehilangan hak milik saya sebagai individu yang kreatif.  Cinta yang sulit diterjemahkan, disingkapkan dengan kata-kata karena kata tak sanggup menampung kandungan isinya.  Tapi juga karya sastra berlandas falsafi atas nama cinta yang tak bisa menemukan titik paling subtil dalam kata.

Begitulah, menyongsong masa depan adalah sesuatu yang biasa. Menjemput masa lalu justru hal yang luar biasa.

Dalam hal urusan bongkar-membongkar, Jacques Derrida memiliki cara yang ampuh meski terkadang berbahaya—ketika ia menolak adanya penanda transendental (tidak ada kebenaran ilahi, tidak ada Allah di belakang teks wahyu).  Dikatakannya manusia berada di dalam suatu “kungkungan logosentris” dan memperhatikan pada “yang tak dipikirkan” dan “yang tak terpikir” Bagi Derrida, teks dapat menyembunyikan kekurangan, kelemahan, dan kebohongan, serta mengandung sejumlah ketakkonsistenan konsep bahkan kontradiksi.

Bagaimana bila kacamata Derrida dihadapkan pada kenyatan sejarah, mitos, sastra, filsafat, bahkan agama?  Dalam perspektif sejarah modern kita misalnya, banyak sejarawan yang mengkritisi perihal kuatnya mitos-mitos khususnya atas Jawa, yang ternyata dominan dalam perjalanan sejarah bangsa. Tak terkecuali Prof Dr Taufik Abdullah, sejarawan kelahiran Bukit Tinggi, Sumatera dalam pelbagai tulisan dan pidato kebudayaannya menyingkap mitos yang menguasai pola pikir tokoh dan sejarawan-sejarawan kita.

Harus diakui, Tak terhingga banyaknya misteri bila dilihat dari prespektif sejarah, terkait dengan Jawa—kekuasaan, politik, maupun pemaknaan atas lintasan peristiwanya. Hal ini mengingat selain waktunya telah berabad, juga karena tradisi penulisan sejarah yang amat tipis perbedaannya dengan mitos-mitos bagi Jawa. Contoh yang mengemuka, sudah barangtentu adalah “Babad Tanah Jawa” sebagai babon penulisan sejarah Jawa.   Di satu sisi tradisi yang ganjil terjadi dan berhumbalang pada Jawa ini barangkali sebagai harta karun kebudayaan, meski di lain sisi acapkali mempersulit ilmuwan-ilmuwan untuk menimba pengetahuan darinya. Dua hal yang pada kenyataannya sama-sama punya bukti dan alasan mendasar untuk ternyata memperkaya pelbagai interpretasi tentang Sejarah Jawa. Dua buku penting yang luar biasa justru keluar dari khazanah unik Jawa dengan gemilang dan kesohor, yaitu Sejarah Jawa (History of Java) Raffles dan Jawa : Silang Budaya Dennys Lombard.

Misteri tetaplah sebagai misteri. Namun usaha menyingkap setiap yang gelap menjadi daya pesona tersendiri bagi ilmu sejarah. Apalagi masa lalu bagi sejarah adalah tambang emas masa kini demi harapan kehidupan yang lebih baik pada masa mendatang. Sejarah mennguliti masa lampau untuk kepentingan masa kini dan masa depan, serta melihat masa sekarang dalam perspektif masa lalu dan sebaliknya. Tentu saja dengan segala renik perilaku budaya masyarakat Jawa masa lalu yang lebih mistis ketimbang analitis tersebut yang tetap ditumbuhkembangkan, “mentradisi” bahkan amat mungkin hal itu menguat justru di luar kesadaran diri hingga memasuki ranah kepemimpinan, kekuasaan atau lembaga-lembaga politik kita. Kendati tentu saja, keragaman masa kini bukan tanpa terkecuali dari asumsi tersebut—yaitu tradisi baru yang berpegang pada moralitas dan kaidah-kaidah keilmuan mutakhir.

Diantara sebegitu banyak pesona dan misteri akan Jawa, adalah pola perlawanan atau pertentangan terselubung atas nilai-nilai budaya pedalaman (Mataram) dan pesisiran (Demak, Pajang dan sebagainya).  Hampir bisa dipastikan, karena sudah demikian mengurat mengakar dalam kehidupan berbudaya kedua masyarakat tersebut, mengakibatkan perbedaan persepsi atas setiap perilaku bermasyarakat yang mempengaruhi tata kehidupan berbahasa, berbudaya, bahkan pada kecenderungan berpolitik bahkan bersastra mereka. Bukan mustahil lebih dari itu justru melahirkan tradisi-tradisi baru mereka yang kemudian mengakar, menjalar.

Dalam prespektif keilmuan mungkin bisa melihat panorama pengaruh kehidupan masa kini itu pada pertanyaan seputar kesamaaan derajat manusia, egalitarianisme, keterbukaan dialog, demokrasi dan kedaulatan rakyat yang dibawa oleh watak masyarakat pesisiran. Kemudian dipertentangkan dengan watak feodalisme, sentralistik, otoritarian, tertutup dan kepercayaan pada tahyul (bukan mistik) pada tradisi mataraman-pedalaman. Mempertentangkan keduanya dalam bahasa-bahasa yang demikian epistemologis boleh jadi bukan satu-satunya titik berat. Namun, mempertimbangkan atau menuntut kearifan pentingnya tradisi keilmuan yang baru yang sehat kiranya bakal lebih mencerahkan dari prespektif Sejarah Jawa masa kini untuk masa depan.

Sudah dapat diduga, lagi-lagi panorama ketegangan watak pedalaman dan pesisiran dalam masyarakat jawa ini amat jelas tergambar dalam pelbagai karya sastra klasik. Semisal terdapat pada karya babon Serat Centini yang (hebatnya) digubah atas perintah Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom di Surakarta, seorang putra Kanjeng Susuhunan Pakubuwana IV, yang kemudian bertahta sebagai Sunan Pakubuwana V. Karya lainnya, sastra Serat Darmogandhul yang menentang masuknya Islam di Jawa mempertegas Islam masuk di Jawa Bukan dengan cara yang baik-baik. Kedatangan Islam di Jawa juga menghabisi seluruh tinggalan-tinggalan kebudayaan Jawa. Karya sastra lainnya, Serat Gatholocho, Serat Cebolek yang mungkin kelahirannya dalam prespektif yang sama persis dengan kemunculan sastra-sastra agung.

Kurang lebih begitulah, sejarah masa kini masih membaca adanya kebudayaan tinggi atau yang diagungkan. Di sisi lain, hadir dan hidup kebudayaan yang terpinggirkan dan dipinggirkan. Barangkali sejarah tak perlu mengikuti arus politik kekuasaan yang memenggal apalagi mempertentangkan keduanya. Ancaman Sabdo Palon yang membangkang dan menolak ajakan Prabu Brawijaya (dari Sunan Bonang) masuk Islam, boleh jadi amat inspiratif bagi penafsir-penafsir mitos.  Apalagi Sabdo Palon sosok gaib yang memuja Jawa, itu menebar suara rahasia bahwa kelak 500 tahun lagi, agama Budha bakal kembali jaya, yang lain menafsir sebagai kejayaan kawruh budi. Memang segalanya bersifat rahasia atau Kalamwadi.

Berikutnya, fenomena lainnya, pada lukisan yang lain, dari balik sejarah yang kemudian dibaca, peristiwa di luar sejarah juga terus berlalu—sudah pasti mitos berperan banyak di dalamnya. Beberapa ilustrasi mungkin bisa disampaikan di sini. Ketika masa pergerakan, banyak yang tahu, mengapa Soekarno amat kharismatik, meski  dari sisi konseptual perihal negara merdeka tidak sematang Hatta, Tan Malaka, atau Syahrir. Sebaliknya, tidak banyak yang tahu mengapa Soekarno (Jawa) kemudian dibayang-bayangi Tan Malaka (Sumatra) apabila ternyata gagal memimpin Indonesia Merdeka.  Kendati sampai Tan Malaka menghilang, misteri ini tak terjawab dan memang tak terbukti. Kemudian, di era senja kekuasaan Soekarno dimunculkan kembali Nasution (Sumatra) yang “mengancam” kekuasaan pemimpin besar revolusi itu.  Sebelum akhirnya, tampil Soeharto yang dalam proyek sejarah perlu legitimasi besar-besaran dari Gestok, melalui arsitektur sejarahnya Nugroho Notosusanto.  Kata “legitimasi” menjadi amat ampuh dalam sejarah kita, sementara peristiwa di luar legitimasi itu terus berjalan dengan atau tanpa pengaruh dari kekuasaan yang menentukan arah sejarah.

Jauh sebelumnya, dalam perjalanan berbangsa, barangkali legitimasi itu serupa atau mirip dengan apa yang sekarang dikenal orang dengan Mitos. Ambillah contoh, sejarah masuknya Islam di Indonesia (Jawa) dalam sejarah kita disiarkan oleh walisongo yang kaya dengan mitos-mitos. Di sisi lain, kontroversi timbul atas mitos-mitos itu sebagai bagian dari sejarah yang kemudian berkembang pada kontroversi siapa sebenarnya walisongo. Ada yang bersikukuh bahwa walisongo adalah orang Jawa keturunan penguasa-penguasa setempat, yang lain menyingkap walisongo adalah keturunan peranakan Tionghoa.

Yang tak kalah hebohnya, dalam sebuah situs di internet dengan narasumber yang jelas, dikatakan walisongo sebetulnya fiktif belaka, karena sangat mungkin rahasianya dipegang kolonial belanda ketika sebuah kitab menyebut bahwa walisongo sebetulnya adalah sembilan ulama yang dikirim dari tanah Arab, Turki, Mesir, Iran, Palestina dan Persia, Maroko, Rusia Selatan sebagaimana tertulis dalam kitab Kanzul ‘Hum karya Ibnul Bathuthah. Menurut sumber itu Walisongo dibentuk Sultan Muhammad I untuk diberangkatkan ke pulau Jawa pada tahun 1404. Dalam kitab Kanzul ‘Hum karya Ibnul Bathuthah, yang kemudian dilanjutkan oleh Syekh Maulana Al-Maghribi. Secara lengkap, nama, asal dan keahlian 9 orang tersebut adalah sebagai berikut: 1) Maulana Malik Ibrahim, berasal dari turki, ahli mengatur negara (ahli tata negara). 2) Maulana Ishaq, berasal dari Samarkand, Rusia Selatan, ahli pengobatan. 3) Maulana Ahmad Jumadil Kubro dari Mesir. 4) Maulana Muhammad Al-Maghrobi, berasal dari Maroko. 5) Maulana Malik Isro’il, dari Turki, Ahli mengatur negara (ahli tata negara). 6) Maulana Muhammad Ali Akbar, dari Persia (Iran), ahli pengobatan. 7) Maulana Hasanuddin, dari Palestina. Maulana Aliyudin, dari Palestina. 9) Syekh Subakir, dari Iran, Ahli menumbali daerah yang angker yang dihuni oleh Jin jahat (ahli ruqyah).

Sesungguhnya betapa menarik untuk menelisik lebih dalam tradisi penulisan sejarah-sejarah lampau, juga apalagi terkait kerajaan-kerajaan besar di nusantara ini. Karena sangat mungkin yang ditulis sebetulnya bukan sejarah melainkan hibrida, dan kebanyakan adalah mitos-mitos. Atau sebaliknya, bahwa Babad, Kitab, Cerita Panji, Tembang, dalam kesusastraan kita sebetulnya amat sarat dengan peristiwa sejarah. Beberapa peneliti Belanda seperti Prof  CC Berg misalnya, telah mengambil jalan tengah bahwa sebagian mitos-mitos itu bisa sebagai bahan sejarah. Begitu juga dengan Prof Purbatjaraka, meski ditentang Dr WH Rassers yang menegaskan mitos adalah mitos.  Atau tanggapan atas Babad Tanah Jawi dari HJ de Graaf, bahwa menurutnya Babad Tanah Jawi dapat dipercaya, khususnya cerita tentang peristiwa tahun 1600 sampai zaman abad 18. Demikian juga dengan peristiwa sejak tahun 1580 yang mengulas kerajaan Pajang. Namun, untuk cerita selepas era itu, menurut de Graaf tidak terlalu sarat campuran mitologi, kosmologi dan dongeng.

Sastra Hindu yang menjadi bulan-bulanan, juga Cerita Panji yang akhirnya terbukti ampuh tak terbunuh amat canggih dalam kekunoan sastra Jawa—dari himpitan masalah politik, kekuasaan, juga pengaruh kuat lainnya semisal serbuan dari nilai-nilai kebudayaan yang memang murni. Uniknya, Cerita Panji secara politis bersifat istana sentries, diantara sastra-sastra dari pujangga istana masa jaya Kediri atau Majapahit dengan puncak-puncak kakawinnya, Arjuna Wiwaha (Mpu Kanwa), Hariwangsa (Mpu Sedah), Bharatayudha (Mpu Sedah dan Mpu Panuluh), Gatotkacasraya (Mpu Panuluh), Smaradahana (Mpu Dharmaja), Negarakertagama (Mpu Prapanca), dan lain-lain. Kekacauan politik akibat serbuan Islam dan menyusul menyingkirnya pengikut Majapahit ke Bali tentu berdampak pula pada nasib Cerita Panji—dengan segala keajaibannya. Kediri sebagai “rumah” Cerita Panji, memikat dan dalam titik balik tertentu menumbuhsuburkan mitos-mitos lingkaran kebudayaan Hindu (ditambah pengaruh pedalaman), Kebudayaan Pesisir dan eksodus ke pulau seberang, Bali. Tentu saja lingkaran itu meliputi segala pernik dan kompleksitas di dalamnya termasuk pengaruh politik kesenian maupun spirit atau sikap dan strategi kebudayaan masyarakatnya. Sungguh suatu keajaiban yang lain ketika Serat Gatholoco juga ditulis di Kediri, dan terbukti ampuh spirit perlawanan dan pemurnian tradisi baru sastranya. Lepas dari diakui sebagai sastra tinggi atau tidak, tercatat dalam sejarah sastra yang bersemangat pembaruan atau tidak, hingga kini itu menjadi soal yang lain. Kenyataan ini tentu menjadi hitungan tersendiri setidaknya secara artistik dalam sastra pascamitos.

Lalu, pertanyaan penting bagi kita adalah, mitos atau sejarah, atau gado-gado dari keduanya dari legitimasi peristiwa yang dibuat, dilalui, dan ditulis oleh “pujangga-pujangga” atas nama penguasa hingga saat ini?

 

Kredo: Penyair, Psikopat dan Pemabuk

 

DARI buku Atlas Budaya Islam, didapat penjelasan, bahwa pada agama transenden, alam itu profan, lawan dari suci. Bahwa alam tidak mempunyai kualitas ketuhanan. Alam tidak mengerikan, tidak misterius dan tidak pula mempesona. Alam itu sendiri adalah proses tumbuh dan hancur—suatu mesin jam yang kekuatannya melekat dalam dirinya—baik dalam totalitasnya, dalam unsur atau spesiesnya atau dalam obyek individualnya. Alam adalah dirinya sendiri. Alam bukan Tuhan. Alam tidak sakral dan bukan realitas puncak. Bila agama-agama transenden membagi antara ragam Teistik dan Nonteistik, maka alam dipandang abadi atau fana, baik atau jahat. Bagi Budhisme Theravida, alam itu abadi tetapi jahat. Di sini tanha adalah keinginan atau kecenderungan untuk senantiasa berubah, dan penderitaan (dukkha) membentuk esensinya.

Meski “pencerahan” sudah dirampok para pendahulu abad pertengahan, namun kurang lebih energi yang berdiam di ruang batinlah penghuni barunya—berdiri sendiri dan berkesinambungan, abadi tidak bergantung pada apapun. Pada tanha dalam kosakata budhisme, dipahami sebagai segala macam keinginan, kehausan. Ada Kama-Tanha (keinginan terhadap nafsu indra), tapi ada pula Bhava-Tanha (keinginan untuk tetap hidup/eksis, baik di alam dewata maupun alam brahma), ada pula Vibhava-Tanha (keinginan untuk tidak ada/pemusnahan diri).

Kehausan ini, nafsu keinginan yang tak habis-habisnya, yang memperlihatkan diri dalam berbagai cara, merupakan sumber dari beraneka ragam penderitaan dan kelangsungan hidup makhluk-makhluk. Tetapi, hendaknya hal ini jangan dianggap sebagai sebab yang pertama karena menurut paham Buddhis tak mungkin ada sebab yang pertama—segala sesuatu itu relatif dan saling bergantungan dan saling berkaitan. Sampai  kehausan (tanha) ini yang dianggap sebagai sebab atau sumber dari dukkha, pada hakekatnya, untuk dapat timbul (samudaya), tergantung pada sesuatu yang lain, yaitu perasaan (vedana), dan perasaan ini tergantung pada kontak (phassa) dan seterusnya terciptalah satu lingkaran Hukum Pokok Yang Saling Bergantungan (Paticcasamuppada). Di sini istilah tanha bukan saja berarti keinginan akan dan terikat kepada hawa nafsu, harta benda dan kekuasaan tetapi berarti juga keinginan akan dan terikat kepada ide-ide dan cita-cita, pandangan hidup, opini-opini, teori-teori, konsepsi-konsepsi dan kepercayaan-kepercayaan.

Berakar dari pemahaman itu—juga sudah barangtentu berikut kontroversinya—perihal estetika dan bentuk artistic teks, alahkah baiknya menyitir bahasa Gadamer. Bahwa menurutnya ada empat cakrawala tersembunyi dalam suatu teks filsafat atau sastra: bildung (pandangan keruhanian yang membentuk jalan pikiran seseorang, termasuk di dalamnya pandangan hidup, way of life, sistem nilai weltanschauung),  sensus communis (pertimbangan praktis, yang dalam sastra bisa terwujud dalam pemilihan tema atau permasalahan dengan mempertimbangkan perasaan komunitas di mana pengarang hidup), judgment (pertimbangan, berhubungan dengan apa yang harus disampaikan dan diajarkan kepada masyarakat dengan mempertimbangkan baik buruknya), taste (selera, cara-cara menyajikan sesuatu yang sesuai dengan selera masyarakat sezaman).

Sampai di sini, barangkali bisa dimulai dengan pertanyaan kecil pada diri sendiri. Semisal, mengapa menulis sebagian besar karya sastra justru pada saat kehilangan pekerjaan? Tentu saja sulit dicari persis jawabannya. Barangkali hanya bisa merasakan dampaknya.  Inilah kiranya persoalan pribadi pengarang, yang di luar dugaan, telah banyak menlahirkan karya-karya yang kemudian bukan lagi menjadi persoalan pribadi saja.  Pendeknya telah berkembang jauh menjadi problem keilmuan dalam hal ini sastra.

Kurang lebih apa yang dirasakan kemudian, pengarang memilih dirinya sebagai kepanjangan tangan “kecintaan” pada diri sendiri.  Tidak sulit baginya untuk menulis sejumlah kisah sepanjang menyakini diri telah mengetahui kodratnya, takdirnya, duduk perkaranya, perannya, misterinya, perkembangan kembara alam pikirannya, bacaan mutakhirnya, lalu teror-teror yang menghantuinya semisal salah satunya soal pekerjaan itu tadi.

Selebihnya, proses kreatif kepengarangan terdesak oleh usaha selama bertahun-tahun belajar bahasa Indonesia yang baik dan benar. Semisal sekurang-kurangnya lima tahun berkecimpung di dunia jurnalistik. Atau sekitar tujuh tahun mendalami sastra di universitas.  Sebab itu kepengarangan tentu saja tak luput dari pengalaman hidupnya.

Seperti ungkapan tadi, bahwa “cinta” pada diri sanggup menggerakkan kepengarangan hingga detik ini.  Semisal dengan kesanggupan menulis dan mengumpulkan cerita-cerita dalam satu buku agar bisa meluaskan pandangan keilmuan ke khalayak lebih luas.

Sudah barangtentu, cinta yang dimaksud tanpa bermaksud mengurangi tabiatnya, meski telanjur diadopsi sebagai anak pungut yang sayang sekali sering diberi beban makna yang sangat klise.  Suatu hal yang mustahil dilakukan seorang ilmuwan dan manusia yang mengerti akan kodratnya selaku individu yang kreatif.

Menulis sastra adalah suatu upaya menjaga diri, memahami diri agar tak kehilangan hak milik sebagai manusia.  Semacam cinta yang sesungguhnya, cinta yang berpuasa, cinta yang menahan diri agar terhindar dari kesepian, kecemasan,  apalagi kehilangan.  Cinta yang tidak takut pada jarak, waktu dan tentu saja ruang.  Cinta yang bisa mendengar dan merasakan jerit tangis, luka, bahagia, sampai dasar relung yang terdalam manusia.  Cinta yang sulit diterjemahkan, disingkapkan dengan kata-kata karena kata tak sanggup menampung kandungan isinya.  Tapi juga cinta yang tak bisa menemukan titik paling subtil dalam kata.  Mungkin semacam molekul, partikel, atau gelombang abstrak yang bertukar tempat, silih berganti wujud, tarik-menarik tanpa henti.

Saat itulah tak sulit untuk merondai pikiran dengan menempatkan dirinya pada tirai puisi.  Tidak terlalu susah membiarkan otaknya memutar balik pandangan tentang pikiran dalam semesta.  Semesta telah dirangkumnya dalam satu gerak pikiran besar.  Tidak bersusah payah berkat kata dalam puisi, yang menghadirkan perasaan, intuisi, imajinasi, jiwa, kesadaran bahkan ruh—hal yang sangat manusiawi sekaligus mempribadi.  Sebaliknya ia telah menemukan ruh, kesadaran, jiwa, imajinasi intuisi dan perasaan setiap kata sebagaimana ia temukan dirinya dalam kata. Ya, ia membabtiskan kata itu seperti manusia juga.  Seperti partikel, seperti gelombang abstrak.  Sebab itu meskipun ia tahu begitu banyak, jutaan kata-kata, miliaran buku-buku, seperti juga manusia ia tahu bagaimana harus hidup, menyela dan menyusun pikiran besar. Ia pun tahu, perlu kerendahatian untuk berjanji. Juga janji sebagai pengarang memperlakukan kata seperti halnya terhadap manusia.  Begitu sebaliknya akan menghormati manusia seperti halnya angkat topi terhadap kata.

Betapa ia tak akan tinggal diam saat menjumpai kenyataan seperti sekarang: Kata sudah demikian kejam menjadi pembunuh berdarah dingin yang menghabisi manusia, seluruh semesta, membantai sesama kata dan bahkan membunuh dirinya.  Akibatnya, kematian terjadi dimana-mana. Kecuali bagi siapa saja yang bersih dan jujur. Pendek kata sebagai pribadi, sebagai pengarang, sebagai ilmuwan dan sebagai manusia, setiap mereka berjanji akan menemukan dan melahirkan kebersihan dan kejujuran kata dalam kepengarangannya kelak. Kata sendiri belum pernah diperlakukan semulia roh dasarnya.

Jadi satu-satunya amanah pengarang itu terletak pada kemuliaan dan kewajibannya untuk mengingatkan bahwa menghidupkan kata pada karya itu, sama halnya kreasi Tuhan meniupkan ruh hidup manusia di semesta ini.  Seperti laiknya partikel, dan gelombang abstrak lainnya semacam kabut tipis di selaput jagad. Maafkan, bukan maksudnya ini menggambarkan kerja Tuhan dalam wujud manusia, partikel, atau gelombang abstrak.  Melainkan karena tidak ada Bahasa yang paling mendekati artinya kecuali demikian.

Di sinilah lantas pengarang prosa mendapatkan bentuknya ke dalam “kisah” yang rasa katanya berbeda (apalagi) dengan “cerita pendek.”  Cerita pendek kurang kesanggupannya memboyong segala kemungkinan kata karena tabiat kata yang sudah ditentukan padanya—kurang ajar, purba, tidak saja seperti anak yang lahir yatim piatu tanpa bapak dan ibu, tetapi juga sombong dan tak mengakui manusia.  Ia hanya tahu manusia, pengarang, penyair itu ada.  Tapi dia hidup di dunianya sendiri yang sama sekali asing dan barangkali punya kitab sendiri, nabi-nabi sendiri. Nenek moyang cerita pendek telanjur menangkap mereka dan memeliharanya dalam satu kandang peternakan.  Mengurung mereka, membebani, mencuci otaknya dan kemudian menggiringnya satu-satu menuju pembantaian sebelum akhirnya dijadikan santapan lezat empat sehat lima sempurna oleh manusia. Sebab itu, sebagai bagian dari dirinya sendiri, “kisah” lebih mendekati takdirnya kendati dia sendiri masih diberi pilihan untuk menentukan dirinya sendiri.  Dia bisa hidup serumpun dengan dongeng, serumah dengan hikayat.  Atau bisa jadi mengajaknya kucing-kucingan dengan mencari resep-resep keagungannya.  Sebagaimana keduanya bisa menakjubkan makhluk manusia. Kisah menjadi dunia yang amat cerdas, liar, kreatif tapi di lain waktu bisa kolot, malas atau sumeleh sebagai bentuknya.  Inilah takdir yang telah dilunasi setidaknya hingga saat ini.  Ia seperti manusia juga, yang tak sanggup mengajar kesempurnaan kendati Tuhan telah menciptakannya sebagai makhluk yang paling sempurna.   Secara fisik ia bisa cacat bisa pula sehat jasmani, ciri ataukah berbadan perkasa.  Bukankah lebih terhormat, lebih mulia, lebih arif bila kita memanusiakan mereka seperti kenyataan sesungguhnya?  Manusia utuh sebagaimana wakil pencipta di bumi ini?

Sastra adalah sastra.  Apabila kita terkurung pada penilaian wadag-nya, tentu kita jatuh sebagai pembaca yang memandang sebelah mata dan cenderung sebagai sosok bertabiat keji yang menganiaya sastra.  Kisah-kisah bisa lahir dalam bentuknya serupa puisi bukan karena berpura-pura meminjam tabiat puisi.  Atau persis sketsa karena garis-garis fisualnya dia curi dari seorang perupa.  Bilapun mirip nukilan karya drama tak lantas berperan jadi karakter lain, wujud lain.  Bukan. Jika pun terjadi, apologi semacam itu semua justru melepaskannya dari ruh sastra sebagaimana galibnya yang musti percaya diri, “kreatif,” berani, bebas, sadar diri tengah menarikan tarian semesta di lautan kata.  Entah itu ia dalam keadaanya yang terkendali atau sedang dikendalikan oleh suatu kekuatan yang di luar dirinya, tapi ia yakini  sebagai imamnya, penciptanya.  Kadang-kadang ruh sastra itu tak peduli benar dirinya bermakna atau tidak.  Tapi pertanyaan itu tak pernah diajukan padanya yang telah tahu tujuan hidupnya.  Kedengarannya hanya serentetan bunyi.  Kelihatannya cuma bayang-bayang.  Kesannya seperti tanpa pesan.  Sebaliknya bukan mustahil di belakang itu malah tersimpan pikiran besar, arti yang gemilang dalam perjalanan hidupnya.  Spirit hidup yang luar biasa di tengah lautan kata meskipun dalam kenyataannya di negeri ini dalam penggunaannya, kata-kata demikian keruhnya,  tidak orisinil,  kerdil dan kosong.  Kendati entah di kedalaman lautan kata atau di pinggiran pesisir pantai perawan, saat ini terus diuji oleh sastrawan-sastrawan dengan jiwa besar.

Kebesaran jiwa sastrawan-sastrawan, pengarang-pengarang, seakan mutlak diperlukan dan terus diupayakan mendekati pemaknaannya, yang kurang lebih serupa takdirnya, nasibnya, spirit hidupnya, kegelisahannya:  serupa dengan kata.  Sebagai pengarang tentu ia harus sadar berada di sepanjang ruang dan waktu.  Sebagai pengarang tentu tidak akan mencari jawab apalagi untuk menemukannya.  Karena naluri kepengarangan mengungkapkan hal itu akan sia-sia.  Pengarang  hanyalah diberi hak untuk mengajukan pertanyaan, bujuk rayu, kebijakan filosofis, dalam bentuk seindah mungkin, sedahsyat mungkin agar seolah kelak mendapat jawaban pasti atas segala tanya dan mengakhiri kegelisahannya.

Mengarang lebih tepatnya adalah  usaha menipu diri sendiri.  Sampai di sini pengarang penting untuk percaya berkat pengorbanan—yang  meski tak istimewa  tapi perlu dengan jiwa besar seperti itu,—sanggup mempertahan diri, menahan diri dengan puasa agar senantiasa melakoni sebagai manusia yang kreatif semestinya atas nama Sang Pencipta.  Pengarang perlu menipu diri untuk meraih kegelisahan hidup kepengarangan selanjutnya, kebingungan berikutnya.  Kedengarannya memang naïf, dan gila.  Pengarang harus gagah hidup miskin, di tengah kemiskinan di lautan kata, samudera bahasa di negeri ini, yang fatalnya juga masih hidup susah karena serba terjerat kemiskinan, juga terlilit utang (apalagi kata). Dengan demikian segala kemungkinan bisa terjadi sekalipun ini paling tidak mungkin. Menjadi makhluk yang  karena keterbatasannya sanggup menjangkau ketakterbatasannya.  Menjadi sesuatu yang biasa demi menuju yang luar biasa.  Berada di suatu peristiwa kecil tapi menjadi dahsyatnya.  Sesuatu yang seringkali sia-sia, tak tersentuh tetapi sesungguhnya betapa luas maknanya.  Atau sesuatu peristiwa besar yang semula percuma, kemudian disederhanakan agar selanjutnya enak dibaca dan perlu.

Pada Tanha, melalui monolog dengan sudut pandang “engkau,” menegasakan sesuatu pesan puncak pada tokoh Maya Durghata Karini:  “Engkau janganlah ragu menjadi sumber inspirasi berkat kemurnian jiwa dari pertapaanmu, kesunyianmu, kesenderianmu.  Perlihatkanlah, pertontonkan dan tunjukkan kini sebagai suatu pengetahuan mutakhir wahai sang psikopat, sang penyair dan sang pemabuk.  Ah, ya Tuhan, rupanya engkau kini telah sampai pada puncak keilmuanmu, atau lebih tepatnya ilmu jiwa paling mutakhir zaman ini.  Engkau kiranya telah meletakkan pencapaianmu secara konseptual dari ketiga alam cita sang psikopat, sang penyair, dan sang pemabuk. Juru tafsirmu tidaklah sulit untuk merangkai teori sembari melampaui segala referensi dalam satu simpul, tanpa harus takjub pada sihir kitab-kitab pendahulumu.  Tiga pilar ilmu jiwa yang dibangun di atas reruntuhan gedung tua laboratorium manusia, dengan imajinasi yang kaya dari simbol, metafora, kata-kata puisi, serta ekstase alam cita bawah sadar sebagai spirit keilmuannya.  Itu semua dikerjakan juru tafsir dalam suasana sunyi, sepi, kesendirian seorang pertapa yang hening. Tahap mitis, ketika sikap manusia yang merasakan dirinya terkepung oleh kekuatan-kekuatan gaib sekitarnya, yaitu kekuasan dewa-dewa alam atau kekuatan kesuburan, yang dipentaskan dalam mitologi-mitologi bangasa-bangsa primitif.”

Mungkin ada benarnya, pernyataan van Peursen terkait tokoh-tokoh novel Tanha ini telah sampai (atau masih berkutat) sebagai alam pikiran berbakat, dalam arti primitif. Meskipun dia sendiri tak sepenuhnya setuju dengan kata primitif. Yang kurang menarik adalah, pada akhirnya Peursen melihat mitos dari sisi logika alias mitologi. Hal yang tidak berbeda jauh sebagai prespektif atau pemetaan mitos dari Levi Strauss. Bahwa mite adalah cerita, mite adalah anekdot. Yaitu berdasarkan struktur-struktur kebahasaan yang bisa diulang-ulang. Kata kuncinya primitif—bagi mahkluk primitif semua pengalaman adalah gaib. Yang disebut belakangan ini adalah pondasi dari akar kesadaran makluk tinggal di semesta ini untuk sejenak tinggal dalam ruang waktu tertentu melepaskan diri dari kehidupan sehari-hari. Dalam bahasa Johan Huizinga, homo ludens, makluk bermain pada tubuh binatang dan manusia yang dalam masa kini cukup terwakili pada diri anak-anak dan sebagian orang yang mengalami gangguan jiwa. Yaitu, bermain dalam suasana keseriusan yang menghibur, ada tegangan-tegangan tubuh dan jiwa yang keluar dari stereotif keseharian, dan bahkan keluar dari stereotif nalar manusia.

Seperti inilah, kritik pada spirit Cerita Panji itu. Yakni ada pada ruh sastranya untuk menjadi tradisi baru: Menyusupkan semacam moralitas dalam tafsir ulangnya, memperkaya ruang bermainnya dalam kemungkinan menyusun “metarealitas” menjadi budaya, dan tentu saja usaha-usaha untuk senantiasa menjadi pembaharu berwatak kebaruan. Sudah barang tentu berpijak pada kontek masyarakat dengan tema kemiskinan, penderitaan, keterasingan. Inilah pilihan cerita yang memantik spirit untuk senantiasa melibatkan diri dalam ketegangan antara imanensi dan transendensi. Sebagaimana kata Iqbal, sifat pengetahuan manusia ialah konseptual, dan dengan bersenjatakan pengetahuan konseptual inilah manusia berkenalan dengan aspek Kebenaran yang dapat diselidiki. Apa yang terungkap dalam dunia sastra lebih sebagai masalah psikologi saja ketika mengurai seratserat perasaan, penginderaan dan bukan dalam rangka proyek pemindahan isi pengalaman religius yang mempribadi. Andai dalam jagad teater, “bermain” berarti menjajagi segala kemungkinan estetik dan artistik dalam teater, terbuka terhadap segala ruang bagi paradigma-paradigma paling mutakhir, konsepsi-konsepsi paling avant-garde, wilayah-wilayah garapan paling actual, juga bentuk-bentuk paling tidak mungkin. Asalkan, persyaratan kebebasan, bukan kehidupan biasa, dan tertutup sejak mula hingga berakhirnya, tak bisa ditawar. Suasana penuh keriangan, sonder peduli apakah sifatnya sakral atau hiburan meski tetap disertai semangat luhur. Bermain sungguh perlu banyak eksperimentasi. Sudah barangtentu dengan mempertimbangkan banyak pola bermain. Pelbagai bentuk yang ditawarkan dengan terbuka banyak kemungkinan atas dasar karakteristik bermain:  Tidak percaya sepenuhnya pada logika kata dan bahasa dengan menggugat; menyoal bahkan menjungkirbalikkan semisal pada aspek-aspek dramaturgi tragic comedy; lalu, serentetan kata dalam kalimat hanyalah pelor yang ditembakkan beruntun, tanpa makna tapi teror dari bunyinyalah yang mengejutkan; Juga memperlakukan kata bukanlah pada maknanya, tapi pada kehadirannya yang sedang show of force bermain drama alias acting saja—separti halnya aktor yang hadir di ruang waktu peristiwa drama. Bahkan mungkin juga mereka hanyalah sederetan huruf-huruf yang sabar menunggu untuk dihidupkan saja dari kehendak teater bermain ini.

Pendeknya ini adalah upaya seperti sebagian besar makluk bermain yang telah sadar butuh tenaga gaib demi untuk tujuan mengampu pada kekuasaaan yang lebih tinggi. Inilah teater, sastra, dongeng dalam dalam tradisi barunya, spirit barunya.[]

*) Tulisan ini pertama kali dipublikasikan dalam buku Konservasi Budaya Panji, Dewan Kesenian Jawa Timur, 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s